Sekilas Pintas Perkembangan Kajian Antropologi di Kalimantan Selatan (1979–2011) dan Peristiwa Pendirian Program Studi Antropologi Universitas Lambung Mangkurat

(Catatan ini merupakan Kata Pengantar untuk Proposal Pendirian Prodi Antropologi Unlam tahun 2013. Memang tidak menyebutkan secara menyeluruh berbagai fase perkembangan kajian Antropologi di Kalimantan Selatan, tetapi barangkali dapat dipergunakan sebagi pembuka jalan untuk diskusi dan penelusuran studi terkait dengan bidang penelitian hari ini dan yang akan datang)

Penulis : Setia Budhi



LATAR BELAKANG Gagasan yang diketengahkan untuk mendirikan dan mengembangkan Program Studi Antropologi pada pendidikan ilmu-ilmu sosial ini ialah dengan melihat perkembangan kajian-kajian yang dilakukan di Indonesia dan kawasan lainnya terhadap perkembangan dan perubahan sosial yang semakin tajam di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Antara tahun 1960 dan 1970-an perkembangan sain sosial di Kalimatan mengalami fase yang penting, Schrer, H. (1963) dengan kajian Ngaju religion : The conception of god among a South Borneo people. Hudson, A.B. 1967 dalam The Padju Epat Ma’anjan Dajak In Historical Perspektive”. Hudson, A.B. 1972. Padju Epat: the Maanyan of Indonesia Borneo dan Mallinckrodt, J dalam Gerakan Nyuli di Kalangan Suku Dayak Lawangan. Penelitian dalam Ngaju Religion dari Scharer memberikan petunjuk penting perkembangan Antropologi di Kalimatan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Setahun setelah menyelesaikan studi sosiologi pedesaan di Institut Pertanian Bogor – IPB, Mohtar Sarman (1988) mulai merintis penubuhan program studi Sosiologi yang dilalarbelakangi oleh hasil penelitiannya tentang masyarakat pedesaan di Kalimantan. Makalah dan banyak tulisan di media massa yang ditulis oleh Muhtar Sarman tentang konstektualisasi masyarakat pedesaan di Kalimantan dan secara lebih focus tentang Urang Banjar, menegaskan betapa pentingnya membuat wadah ilmu sosial sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembang.
Tahun 1990 an muncul kajian yang agaknya fokus seperti penelitian tentang petani Karet di Desa Surian Hanyar Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan, nampaknya menjadi tonggak penting kajian sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unlam.
Manakala penelitian yang ditulis untuk Desertasi Departemen Antropologi di Univeraitas Indonesia tentang komunitas Dayak Meratus dilakukan oleh Noried Haloei Radam yang kemudian diterbitkan dalam Religi Orang Bukit yang diterbitkan tahun 2001. Nampaknya Radam berada di Meratus sesudah kedatangam Anna Tsing tahun 1979 an. Jika Anna berada di Desa Juhu, Radam di wilayah Batang Alai dan dua kawasan itu dalam satu Kabupaten di Hulu Sungai Tengah. Riset Tsing kemudian diterbutkan tahun 1993 dalam In the Realm of the Diamond Queen: Marginality in an Out-of-the-Way Place dan dalam edisi bahasa Indonesia tahun 1998, Di bawah bayang-bayang Ratu Intan: Proses marjinalisasi pada masyarakat terasing.
Kajian Antropologi Medik di kawasan Borneo merujuk pada upacara pengubatan masyarakat Dayak. Banyak kajian yang melakukan dengan menggunakan istilah Shaman. Bernstein (1997) dalam Spirits Captured in Stone, Shamanism and Traditional Medicine Among the Taman of Borneo, menyatakan bahawa sistem pengubatan yang terdapat dalam kalangan masyarakat Dayak Taman, yang disebut upacara Balien.
Pada masyarakat Murut di Sabah sebagaimana penelitian Reymond Emus (1982), upacara pengubatan Makakangkab dan Mararawak dengan menggunakan seorang perantara yang tingkaayoh dan ikak-ikak. Tingkaayoh melakukan percakapan antara pemangsa dan mangsa, Berkaitan dengan upacara kematian dalam kalangan orang Melanau Likaow di Sarawak, Dzulfawati (1993) mendapati bahawa orang yang mengobati penyakit yang disebabkan oleh makhluk ghaib disebut upacara Berbayah atau a-bayoh. A-bayoh dianggap mempunyai kuasa untuk berkomunikasi dengan tow. A-bayoh membujuk tow yang menjadi penyebab datangnya penyakit a-pedeh atau pesakit apabila penyakit yang diderita tidak bahaya. Ada tiga peringkat dalam upacara berbayoh iaitu, tahap pertama, menilik sebab-musabab penyakit; tahap kedua, ”pengembaraan” a-bayoh ke alam ghaib untuk mencari tow-tow yang disebut sebagai menyebabkan penyakit; dan tahap ketiga memastikan penyakit yang diderita tidak berkelanjutan.
Masyarakat Dayak dan Melayu di Tanah Landak dan Tayan mengenali ritual yang diamalkan oleh seorang Dukun. Dukun itu ialah perantara yang memainkan peranan berlenggang yang disebut lenggang atau tukang lenggang dan dapat dimasuki oleh roh (bersarung). Sedangkan dalam ritual babalian perantaranya ialah Dukun itu sendiri. Balian ini tidak mengenali apa yang disebut ”bersarung” kerana dukun dapat mengutus arwahnya langsung ke tempat di mana roh-roh itu berada.
Kajian Hope (1997) tentang masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung di Kalimantan Timur yang membahas kepercayaan dan praktek pengubatan tradisional. Orang Dayak Benuaq mempraktekkan pengobatan tradisional tersebut dikaitkan dengan kepercayaan kuasa ghaib dan kuasa seseorang yang mempergunakan ilmu bagi tujuan mencederai orang lain.
Seorang perempuan yang berasal dari Dayak Bahau, yang melakukan pengubatan dengan upacara balian di hulu sungai Barito, melakukannya dengan cara meletakkan batu hitam sebesar kepalan orang dewasa. Batu itu diletakkan di atas perut pesakit secara berulang-ulang sambil membaca mantera (Setia B, 2006).
Mengenai pengobatan yang dilakukan oleh perempuan balian Dayak Bahau itu, orang Dayak Taman yang tinggal di Kalimantan Barat beranggapan bahawa kebanyakan penyakit disebabkan oleh sai, roh halus yang dikatakan sudah menangkap semangat (jiwa) manusia dan pengubatan pesakit hendaklah dilakukan oleh Balien. Dukun mengubati pesakit dengan cara menggosokkan batu sebesar kepalan tangan orang dewasa di tempat yang terasa sakit (Anyang 1998).
Karya yang paling menonjol dalam pengobatan Dayak Ngaju di Kalimantan, terutama di kawasan Kapuas dan kawasan Kahayan di Kalimantan Tengah iaitu Dayak Ngaju Medicine yang memperkenalkan upacara Badewa sebagai satu cara mengubat pesakit Klokke (1998). Studi ini mengatakan terdapat beberapa tahapan yang dilakukan dalam upacara Badewa, sekali gus memperlihatkan adanya komunikasi secara langsung dengan dewa yang masuk ke dalam tubuh pandewa atau Dukun, setelah memenuhi syarat-syarat yang biasa digunakan dalam upacara itu. Pengubatan Badewa biasanya dilakukan apabila cara pengobatan yang lain tidak dapat menyembuhkan. Komunikasi yang dilakukan oleh dewa yang sudah merasuk ke dalam tubuh seorang Dukun biasanya menggunakan bahasa Melayu Banjar.
Dalam In The Realm of The Diamond Queen, Marginality in an out-of The Way Place, Tsing menguraikan upacara perdukunan atau upacara Bawanang dalam masyarakat Dayak Meratus di Kalimantan Selatan, yang disebut Putir. Pengobatan yang dilakukan oleh seorang balian adalah dengan membaca mantera atau mamang dan menari mengikut alat musik yang dimainkan oleh para penabuh gendang. Fungsi pemalu gendang merupakan simbol komunikasi dengan hyang kuasa pemilik alam.
Hapip (2008) mengulas secara ringkas fungsi simbol dalam pengubatan orang Banjar. Simbol cacak burung berasaskan kepercayaan bahawa makhluk gaib atau hantu boleh takut apabila simbol ini diletakkan di atas jendela atau pintu masuk rumah. Simbol ini pula dituliskan oleh seorang Dukun ketika mengubati seorang anak yang sakit kerana buatan hantu atau kapidaraan. Upacara ritual Aruh Baharian misalnya, kita dapati kontek Pidara, sebagai leluhur-leluhur yang diucapkan sebelum Batandik pada titik timpu rangkauan ritual mahanyari banih.
Tulisan berupa kaligrafi Islam yang diambil dari Alquran atau simbol bertuliskan huruf Arab untuk mencegah daripada menjadi mangsa makhluk gaib. Kaligrafi ayat-ayat seperti Bismillahirrahmanirrahim, Laailahaillah Muhammadurrasulullah dan Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala aali Muhammad. Kaligrafis ini ditulis di atas kertas yang kemudian dibungkus dengan kain kuning atau hitam yang disebut wafak, wifik, hizb, atau rajah, dan dijadikan sebagai Jimat untuk pengobatan. Kajian Islam dan orang Banjar di Kalimantan Selatan, Daud (1997) mendapati bahawa pengobatan tradisional masyarakat Islam Banjar yang berkaitan dengan makhluk ghaib dikenal dengan upacara mamangan mukri pengobatan dilaksanakan dengan tiga tahapan iaitu (1) mamangan memanggil atau menjemput tokoh di alam ghaib (2) mamangan yang isinya mempersilakan tokoh alam ghaib yang sudah datang untuk makan sesajian dan (3) mamangan yang isinya mempersilakan tokoh alam ghaib untuk kembali ke tempat asalnya.
Oleh itu kepakaran seorang dukun adalah kerana ilmu yang diturunkan oleh nenek moyangnya daripada makhluk ghaib yang dibelanya. Upacara ini kerap dilaksanakan dengan tujuan kehilangan barangan dan perkara yang berkaitan dengan pembinaan rumah tangga serta mangsa penyakit makhluk ghaib. Dukun yang melaksanakan upacara Mamangan Mukri dikenali dengan Tabit. Dalam pelaksanaan upacara Tabit meminta menyediakan sesajian yang di letakkan di bilik tengah rumah seterusnya memulakan pengubatan dengan kuasa mahkhluk ghaib yang dibela.
Memasuki tahun 2000 an fase perkembangan Antropologi di Kalimantan Selatan mencuat lagi dengan munculnya kajian Nasrullah (2008) tentang NGAJU, NGAWA, NGAMBU, LIWA (Lévi-Strauss’ Structuralist Analysis of Dayak Bakumpai Spatial Conceptualization at the Barito River), kajian yang digarap ketika menyelesaikan Master di Studi Budaya Universitas Gadjah Mada.
Menyebutkan kajian dengan mengambil latar komunitas Dayak Bakumpai di kawasan Sungai Barito ialah penelitian Setia Budhi (2011) “Ritual Badewa Orang Bakumpai, Nanyian Sunyi Para Dewa Ditepian Sungai”, Disertasi yang kemudian belum diterbitkan sebagai buku “Ethnografi Orang Bakumpai” disampaikan untuk departemen Antropologi dan Sosiologi Universiti Kebangsaan Malaysia – UKM Malaysia yang bersinggungan dengan kontek kajian ethnografi.
Penelitian yang disajikan dalam di beberapa kawasan di Pulau Kalimantan terutama di Kalimantan Selatan ini dengan membahas pelbagai issu pengembangan Ilmu-ilmu Sosial. Konsep dan hasil penelitian yang banyak dibentangkan sebagaimana disebutkan di atas, sesungguhnya menjadi sumber penting tentang kelayakan pembukaan Jurusan atau Program Studi Antropologi di Universitas. Pertemuan untuk tujuan mendirikan Program Studi Antropologi tersebut telah dilakukan dan komunikasi tidak resmi dengan Jurusan Antropologi di FISIP-UI telah pula dilakukan. Tetapi tujuan tersebut belum membuka hasilnya. Oleh karena itu, proposal ini diharapkan membuka jalan untuk pembentukan Program Studi Antropologi terutama di lingkungan FISIP Universitas Lambung Mangkurat.

Kampus FISIP Unlam 2013

Pengunjung hari ini

2

Pengunjung kemaren

1

Bagikan

Facebook
WhatsApp
LinkedIn
Scroll to Top