ANTROPOLOGI ULM PERKENALKAN RISET KALIMANTAN SELATAN DI FORUM INTERNASIONAL

Depok – Jurusan Antropologi FISIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berpartisipasi dalam The 9th International Symposium Jurnal Antropologi Indonesia (ISJAI 9). Kegiatan ini berlangsung pada 4 -7 Agustus 2026 di FISIP Universitas Indonesia, Depok.

ISJAI merupakan forum akademik yang mempertemukan peneliti, dosen, dan mahasiswa antropologi dari Indonesia maupun berbagai negara untuk bertukar gagasan serta memperkuat jejaring keilmuan.

ISJAI 9 diselenggarakan oleh Jurusan Antropologi FISIP UI dengan mengusung tema besar “Pluriversal Futures in a Multipolarising World: Global South Perspectives”. Tema ini menyoroti upaya negara-negara Global South, termasuk Indonesia, untuk membangun pengetahuan berdasarkan konteks lokal dan tidak semata-mata menggunakan perspektif Barat. Isu dekolonisasi pengetahuan menjadi salah satu sorotan utama dalam simposium yang diselenggarakan setiap dua tahun ini.

FISIP ULM diwakili oleh Alissa Dian Bratajaya, dosen Jurusan Antropologi, dan Kezia Andrea Rumondor, mahasiswa Jurusan Antropologi. Keduanya hadir sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus memperkenalkan riset dari Kalimantan Selatan di forum internasional.

Kezia Andrea Rumondor tampil sebagai presenter dengan makalah berjudul “Taboo or Fear: A Case Study of Banjar Generation Z’s Perception Toward Death”. Dalam risetnya, ia mengkaji bagaimana generasi Z dari suku Banjar memaknai dan merespons isu kematian.

“Jujur awalnya nggak nyangka bisa bawa nama ULM sampai ke ranah internasional. Biasanya cuma lihat teman-teman dari kampus lain. Alhamdulillah bisa ikut serta dan kasih yang terbaik untuk kampus, fakultas, dan Jurusan Antropologi,” ungkapnya.

Sementara itu, Alissa Dian Bratajaya turut terlibat dalam diskusi panel dan mempresentasikan riset berjudul “Bakti and the Future of Care: Kinship and Gendered Responsibilities in Urban Banjar Families”. Riset tersebut membahas makna bakti dan praktik perawatan terhadap orang tua dalam keluarga Banjar di wilayah perkotaan.

Alissa Dian Bratajaya menyampaikan bahwa keikutsertaan dalam simposium tersebut penting untuk membuka ruang kolaborasi.

“Simposium ini jadi ruang yang bagus untuk berjejaring, berdiskusi dengan peneliti lain, dan melihat bagaimana isu-isu antropologi di Global South dibahas dari perspektif lokal. Harapannya ke depan makin banyak mahasiswa yang berani ikut dan dapat dukungan dari fakultas maupun universitas,” ujarnya.

Diskusi selama empat hari berlangsung dinamis dengan beragam panel, mulai dari kekerabatan, gender, perawatan, hingga politik pengetahuan. Bagi perwakilan ULM, forum ini

menjadi bukti bahwa peneliti dari daerah juga dapat membangun narasi dan mengembangkan pemikiran berdasarkan konteks lokal.

Pengunjung hari ini

2

Pengunjung kemaren

2

Bagikan

Facebook
WhatsApp
LinkedIn
Scroll to Top