Jurusan Antropologi melaksanakan kegiatan Workshop Critical Thinking pada Senin, 20 April 2026, bertempat di Lecturer Theater FISIP Universitas Lambung Mangkurat. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Drs. Koentjoro Soeparno, M.BSc., Ph.D., Psikolog, Purna Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.
Workshop ini merupakan bagian dari program pengembangan kompetensi mahasiswa yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Jurusan Antropologi. Dalam sambutan pembukaan kegiatan, Ketua Jurusan Antropologi, Arif Rahman Hakim, menegaskan bahwa workshop menjadi bagian penting dalam pembentukan keterampilan dasar dan terapan mahasiswa.
Beliau juga menyampaikan bahwa Jurusan Antropologi memiliki enam workshop wajib yang dirancang secara bertahap selama masa studi mahasiswa. Pada tahun pertama, mahasiswa mengikuti Workshop Public Speaking pada semester 1 dan Workshop Critical Thinking pada semester 2. Memasuki tahun kedua, mahasiswa akan mengikuti Workshop Studi Arsip pada semester 3 dan Workshop Visualisasi Data pada semester 4. Sementara pada tahun ketiga, mahasiswa dibekali Workshop Menulis Kreatif pada semester 5 dan Workshop Manajemen Event pada semester 6.
“Program ini dirancang sebagai bekal bagi mahasiswa dalam mengembangkan keterampilan dasar dan terapan, sehingga mereka memiliki kemampuan akademik yang baik dan juga skill yang mendukung proses belajar, penelitian, serta pengabdian di masyarakat,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Koentjoro menyampaikan materi bertajuk “Critical Thinking: Sebuah Keharusan Bagi Mahasiswa.” Dalam paparannya, beliau menekankan bahwa critical thinking atau berpikir kritis merupakan salah satu kemampuan yang sangat penting, tidak hanya dalam dunia akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari-hari.
Menurutnya, kemampuan berpikir kritis membantu mahasiswa untuk tidak sekadar menerima informasi, tetapi juga mampu menganalisis, mempertanyakan, memahami konteks, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Sebagai mahasiswa, khususnya dalam bidang ilmu sosial dan humaniora seperti antropologi, kemampuan berpikir kritis menjadi fondasi utama dalam membaca realitas sosial. Mahasiswa dituntut untuk mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, memahami kompleksitas masyarakat, serta menyusun argumentasi yang logis, reflektif, dan bertanggung jawab.
“Berpikir kritis bukan berarti selalu menolak atau membantah, tetapi kemampuan untuk memahami persoalan secara lebih mendalam sebelum mengambil kesimpulan,” jelas Prof. Koentjoro dalam sesi pemaparannya.
Setelah sesi penyampaian materi, suasana kegiatan semakin hidup dengan berlangsungnya sesi tanya jawab yang interaktif. Mahasiswa antusias menyampaikan berbagai pertanyaan dan refleksi terkait penerapan berpikir kritis dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Workshop Critical Thinking menjadi ruang belajar yang sangat penting untuk melatih kepekaan intelektual tersebut. Melalui kegiatan ini, Jurusan Antropologi berharap seluruh peserta, khususnya mahasiswa, dapat menjadikan forum ini sebagai kesempatan untuk memperluas wawasan, memperkuat daya analisis, serta membangun tradisi akademik yang reflektif dan bertanggung jawab.
Nadya Fadilla, mahasiswa Antropologi angkatan 2025 yang menjadi peserta workshop, menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat membuka wawasan baru bagi dirinya. Menurutnya, workshop ini sangat bermanfaat karena tidak hanya mengasah kemampuan berpikir kritis, tetapi juga membantu mahasiswa memahami diri sendiri melalui materi yang disampaikan.
“Workshop ini membuat saya belajar untuk lebih kritis dalam melihat sesuatu, sekaligus memahami diri sendiri karena ada materi yang sangat relevan dengan kehidupan mahasiswa,” ujarnya.
Hal serupa juga disampaikan oleh Rafi Akhmad Alfarizi, mahasiswa Antropologi 2025, bahwa kegiatan hari ini memberikan kesan yang sangat berarti baginya. Menurutnya, manusia pada dasarnya perlu diajarkan untuk berpikir kritis agar mampu menghadapi berbagai persoalan dengan lebih bijaksana.
“Kegiatan hari ini sangat mengesankan, karena manusia memang perlu diajarkan untuk berpikir kritis dalam memahami kehidupan dan mengambil keputusan,” ungkapnya.






















